Memuncak sudah kekesalanku pada Negara ini. Bukan benci kepadanya tapi aku kecewa atas apa yang terjadi, atas apa yang telah dilakukan oleh oknum-oknum terkutuk yang menjadikan Negara tercinta ku menjadi seperti ini.
Menjadi teringat ketika aku makan di pinggir jalan sendirian. Ketika itu aku mendengarkan seorang tukang jualan berkata “maling ayam sama koruptor hukumannya kok bisa sama-sama 1 tahun padahal jelas koruptor ini merugikan bangsa sedemikian besar”. Ya itu lah yang aku dengar jelas dari mulut seorang rakyat kecil yang polos dan tak mengerti tentang hukum. Bahkan tidak hanya itu yang aku dengar, kemudian dia berkata “kok bisa ya pengacara itu loh, orang jelas-jelas bersalah kok bisa ga bersalah”.
Perkataannya inilah yang kemudian langsung menusuk ke hati, aku merasa malu kuliah di fakultas hukum universitas yang bisa dibilang membanggakan, aku merasa malu mendamba-dambakan diri menjadi seorang pengacara handal yang selalu memenangkan perkara, aku merasa malu merasa takut nantinya akan dipergunjingkan seperti ini bahkan aku sempat untuk menarik diri untuk sekolah advokat nanti setelah aku lulus. Suara polos seorang rakyat kecil ini lah yang harus di dengar oleh kalian para petinggi yang ada di gedung mewah yang mengaku wakil rakyat, bukan sekedar berbicara hanya untuk kepentingan golongan atau kelompok. Ingat rakyat selalu memperhatikan kalian sebagai wakil mereka, mereka diam bukan berarti tak peduli tapi mereka diam karena tak ada daya untuk menyampaikan aspirasinya.
Kemudian lanjut di hari-hari selanjutnya ketika aku pulang ke Bogor, berbicara dengan orang tua ku tentang negara ini. Ayah ku berkata sinis bahwa negara ini tidak pernah maju hanya berputar disini-sini saja, ya aku setuju apa yang dikatakan beliau. Dan kembali kekesalan ini muncul secara tiba-tiba. Aku kesal melihat tingkah laku sejumlah oknum baik itu petinggi di negara ini maupun masyarakatnya. Aku melihat bahwa mental sebagian besar masyarakat Indonesia ini adalah mental barbar, tidak beradab dan ndablek.
Berkali-kali dalam diskusi aku selalu katakan, negara ini membutuhkan seorang pemimpin yang diktator yang memiliki keberanian untuk bertindak . Aku tak peduli setiap orang mengatakan aku “kiri”. Dan ternyata yang aku pikirkan sama seperti yang ayahku pikirkan. Beliau mengatakan bahwa negara ini membutuhkan seorang pemimpin bertangan besi yang berani, bukan pemerintah yang seperti sekarang ini yang hanya selalu menjaga citra dan menarik hati atau simpati rakyat. Aku makin kesal ketika melihat wajah ayahku yang nampak kecewa dengan negara ini karena aku tahu kakek ku atau ayah beliau adalah salah satu pejuang negara ini yang berjuang dengan nyawanya.
Aku teringat ketika dulu ayahku mengatakan bahwa seorang pemimpin itu harus berani bertindak, berani mengotori tangannya dan berani serta sanggup untuk menanggung resiko atas apa yang dilakukannya. Kalimat itu yang selalu aku ingat sampai saat ini bahkan nanti ketika aku beranjak ke jenjang diriku yang lebih tinggi.
Aku sadar aku adalah seorang yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi bahkan mungkin chauvinisme. Ketika aku duduk di bangku sekolah, ayahku selalu mengajarkanku untuk selalu mencintai negeri ini apapun bagaimanapun aku harus pertaruhkan diriku untuk negara ini sampai titik darah penghabisanku jangan pernah pergi dari negara ini. Dan akhirnya aku baru sadar akan perkataan ayahku ketika aku duduk di bangku kuliah sekarang ini.
Aku berharap negara ini dapat berubah, aku berharap meskipun aku hanya seorang biasa aku memiliki keinginan yang sangat besar untuk merubah negara ini dengan tanganku suatu saat nanti. Aku tak akan pernah takut untuk menghabiskan satu generasi perusak negara ini karena aku sangat mencintainya. Ya negara ku, Indonesia ku…..