Bahanasetiawan's Blog

January 21, 2010

Anak itu

Filed under: Sekedar membuat cerita — bahanasetiawan @ 9:30 pm

Waktu sore minggu kemarin, gw ma saudara gw pergi ke panti asuhan di dekat BEC entah daerah apa itu namanya purnawarman atau apa lah. Disitu gw bermaksud untuk shalat ashar karena udah hampir habis waktunya dan ga sempet mampir ke mesjid akibat kemacetan yang terjadi. Selain untuk melaksanakan shalat ashar juga bertujuan menengok kerabat yang lagi disana. Namanya Misya *nama disamarkan* ga enak kalo di baca hehehehe….. Karena telah menikah selama beberapa tahun dan belum juga memperoleh anak, akhirnya mba Misya mengambil keputusan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan tersebut.

Hari itu untuk pertama kalinya gw ke panti asuhan dan awal masuk sih biasa aja ga ada yang berbeda soalnya anak – anaknya lagi pada di kamar semua. Kemudian gw masuk, disitu ada lorong panjang kira – kira 5 meter ada mushola, nah disitu gw shalat. Setelah shalat, gw diajak ke atas untuk melihat anaknya mba Misya. Awalnya sih biasa aj ga ada masalah, menaiki anak tangga serasa ringan. Tapi pas udah sampai diatas bertemu mba Misya dan anaknya…..*Deng*. Disitu entah kenapa gw langsung takut. Tapi ketakutan gw ini mungkin juga ditakuti oleh sebagian orang. Ya…gw takut kalau nasib gw sama dengan mba Misya. Gw takut jikalau suatu saat nanti setelah gw menikah gw  ga bisa punya anak kandung. Entah kenapa ketika itu gw benar – benar kaget dan takut sampai akhirnya gw keluar ke balkon menghirup udara segar sambil bercerita dengan saudara gw tentang ketakutan yang gw rasakan saat itu.

Akhirnya selang beberapa menit gw diluar, dipanggil lah gw ma saudara gw kedalam. Kemudian gw diajak ke suatu ruangan panjang yaitu kamar anak – anak panti asuhan yang masih berumur sedikit entah berapa tahun gw jg kurang tahu yang pasti mereka masih lucu – lucu dan imut serta belum pernah melakukan dosa apapun. Sesampainya di depan pintu gw tersentak lagi hanya berani melirik dan mengintip dari luar. Gw jg ga tw kenapa yang pasti gw sama sekali takut untuk masuk tapi sekali lagi entah kenapa gw sendiri ga tw kenapa gw bisa sampai setakut itu.

Seorang anak kira – kira berumur 3 tahunan datang dan dia tersenyum ma gw, gw balas dia dengan senyuman pula dan kemudian dia masuk ke ruangan anak – anak bayi yang berada di samping koridor. Akhirnya cukup sampai disini akhirnya gw turun ke lantai bawah dengan saudara gw bermaksud untuk keluar merokok. Ya mungkin dengan begitu bisa menghilangkan ketakutan gw tadi. Dan lagi – lagi gw bercerita tentang itu dengan saudara gw.

Anak – anak itu….terlihat bahagia walaupun mereka tak mengerti dan tak tahu apa yang terjadi pada dirinya

Anak – anak itu….menjadi asa bagi setiap orang yang sangat menginginkan kehadirannya

Anak – anak itu….menangis, tertawa, tersenyum riang tak berdosa hanya mengikuti apa keinginan hatinya

Anak – anak itu….adalah putra dan putri bangsa dan penerus bangsa yang harus dijaga keadaan dirinya

Anak – anak itu….berharap akan ada kasih dan kebaikan yang akan menyayangi dirinya

Anak – anak itu…membutuhkan kita semua

Mungkin ini sekelibat pemikiran gw yang gw pikir sama dengan apa yang dikatakan Plato yaitu bahwa kekayaan, anak dan istri adalah milik semua orang. Ya…walaupun untuk yang ketiga gw ga sepemikiran dengan Plato tapi gw setuju dengan 2 hal lainnya.

December 28, 2009

Seorang Prajurit (Bagian I)

Filed under: Sekedar membuat cerita — bahanasetiawan @ 12:48 pm

Maaf  ayah  maaf  ibu…kehadiranku dirumahmu adalah aib bagi diriku. Kegagalanku meraih beasiswa adalah bukti kepayahanku. Khayalanku akan segenggam uang di tanganku adalah bukti bahwa aku tidak sehebat dirimu. Waktu terus berlalu tetapi aku belum bisa memberikan apa – apa untukmu. Sedih rasanya melihat diriku yang selalu bergantung padamu. Ingin rasanya pergi jauh menutup malu di wajahku.

Maaf ayah maaf ibu…bukan maksudku untuk membantahmu, bukan maksudku untuk melawan perintahmu. Aku tergerak untuk masuk militer karena ini jalanku untuk membanggakanmu. Aku tak ingin terus bergantung padamu, aku tak ingin terus merepotkanmu. Maaf atas segala perilaku anakmu yang selalu menyusahkanmu. Kau biayai kuliahku tinggi – tinggi tapi hanya ini yang kucapai. Maafkan aku ayah, ibu.

Hari pertama ku di militer penuh dengan cerita. Ketika ku berangkat dengan diantar oleh keluargaku diiringi isak tangis ayah ibuku membuat ku tak ingin beranjak dari sisinya. Ingin rasanya terus ku peluk dan ku dekap erat tubuhnya. Tetapi takdir berkata lain, aku harus segera mungkin untuk menaiki truk yang telah disiapkan untuk memberangkatkan ku dan teman – temanku ke suatu tempat yang nantinya menjadi tempat ku untuk belajar. Entah apa yang ada dipikiranku, senang bercampur sedih menjadi satu yang akhirnya aku pun tak tahan dan meneteskan air mata melihat ayah dan ibuku melambaikan tangan padaku. Ya….selamat jalan mungkin itu yang diucapkan oleh mereka.

Sesampainya di barak, aku dan teman – temanku diarahkan mengenai apa saja yang harus aku lakukan dan hal – hal apa saja yang tidak boleh aku lakukan. Keras, kehidupan militer yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya menjadi sebuah tantangan yang harus aku hadapi hingga ke depan nanti. Ingatanku akan orang tua ku menjadi suatu spirit untuk membangkitkan semangatku bahwa “aku harus berhasil di dunia ini”.

Waktu terus berlalu, berbulan – bulan aku ditempat ini sampai akhirnya aku lulus dan mendapatkan peringkat yang bagus diantara teman – temanku. Bangga, itu yang aku rasakan pada saat itu. Melihat orang tua ku yang tak pernah aku jumpai berbulan – bulan datang dan melihat ku dengan bangga seolah ingin teriak “Ya inilah anakku yang hebat yang akan menaklukan dunia”. Tak terasa upacara kelulusanku di militer pun selesai dan akhirnya aku bisa melepas rasa kangenku dengan keluarga. Dengan kerinduan yang sangat dalam aku memeluk mereka, aku bersujud di kaki mereka menangis terharu karena bangga akan diriku saat ini dibandingkan dengan diriku dan kehidupanku pada masa yang lalu.

Setelah kelulusan, waktunya untuk pembagian korps dan aku masuk ke dalam korps infantri. Sedikit kecewa tapi y tak apalah, padahal diriku mengidam – idamkan bergabung dengan satuan pasukan khusus yang mana palin disegani di negaraku ini. Tetapi dengan keikhlasan yang aku jalani dan ketekunan yang aku miliki, aku yakin aku akan berhasil di bidang ini.

Hari terus berlalu dan aku masih tetap berada di korps tersebut berlatih untuk menjadi prajurit yang tangguh yang tak takut akan apa pun. Dan pada akhirnya tiba saat aku dikirim ke wilayah konflik di negara lain yang aku pun sendiri tak tahu seperti apa medan yang akan aku hadapi nanti. Perasaan apa yang ada dalam diriku aku pun tak bisa mengungkapkan. Entah perasaan bangga akan mobilitas ku yang tinggi ataukah perasaan takut akan sebuah medan tempur yang aku sendiri tak pernah jumpai sebelumnya. Tapi keharusan itu yang menjadikan ku berani, aku tak gentar akan bahaya apa pun yang menimpaku aku berkata pada diriku “Demi Tuhanku Demi Negaraku Aku Siap Diberangkatkan”………..(Bersambung)

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.