Waktu sore minggu kemarin, gw ma saudara gw pergi ke panti asuhan di dekat BEC entah daerah apa itu namanya purnawarman atau apa lah. Disitu gw bermaksud untuk shalat ashar karena udah hampir habis waktunya dan ga sempet mampir ke mesjid akibat kemacetan yang terjadi. Selain untuk melaksanakan shalat ashar juga bertujuan menengok kerabat yang lagi disana. Namanya Misya *nama disamarkan* ga enak kalo di baca hehehehe….. Karena telah menikah selama beberapa tahun dan belum juga memperoleh anak, akhirnya mba Misya mengambil keputusan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan tersebut.
Hari itu untuk pertama kalinya gw ke panti asuhan dan awal masuk sih biasa aja ga ada yang berbeda soalnya anak – anaknya lagi pada di kamar semua. Kemudian gw masuk, disitu ada lorong panjang kira – kira 5 meter ada mushola, nah disitu gw shalat. Setelah shalat, gw diajak ke atas untuk melihat anaknya mba Misya. Awalnya sih biasa aj ga ada masalah, menaiki anak tangga serasa ringan. Tapi pas udah sampai diatas bertemu mba Misya dan anaknya…..*Deng*. Disitu entah kenapa gw langsung takut. Tapi ketakutan gw ini mungkin juga ditakuti oleh sebagian orang. Ya…gw takut kalau nasib gw sama dengan mba Misya. Gw takut jikalau suatu saat nanti setelah gw menikah gw ga bisa punya anak kandung. Entah kenapa ketika itu gw benar – benar kaget dan takut sampai akhirnya gw keluar ke balkon menghirup udara segar sambil bercerita dengan saudara gw tentang ketakutan yang gw rasakan saat itu.
Akhirnya selang beberapa menit gw diluar, dipanggil lah gw ma saudara gw kedalam. Kemudian gw diajak ke suatu ruangan panjang yaitu kamar anak – anak panti asuhan yang masih berumur sedikit entah berapa tahun gw jg kurang tahu yang pasti mereka masih lucu – lucu dan imut serta belum pernah melakukan dosa apapun. Sesampainya di depan pintu gw tersentak lagi hanya berani melirik dan mengintip dari luar. Gw jg ga tw kenapa yang pasti gw sama sekali takut untuk masuk tapi sekali lagi entah kenapa gw sendiri ga tw kenapa gw bisa sampai setakut itu.
Seorang anak kira – kira berumur 3 tahunan datang dan dia tersenyum ma gw, gw balas dia dengan senyuman pula dan kemudian dia masuk ke ruangan anak – anak bayi yang berada di samping koridor. Akhirnya cukup sampai disini akhirnya gw turun ke lantai bawah dengan saudara gw bermaksud untuk keluar merokok. Ya mungkin dengan begitu bisa menghilangkan ketakutan gw tadi. Dan lagi – lagi gw bercerita tentang itu dengan saudara gw.
Anak – anak itu….terlihat bahagia walaupun mereka tak mengerti dan tak tahu apa yang terjadi pada dirinya
Anak – anak itu….menjadi asa bagi setiap orang yang sangat menginginkan kehadirannya
Anak – anak itu….menangis, tertawa, tersenyum riang tak berdosa hanya mengikuti apa keinginan hatinya
Anak – anak itu….adalah putra dan putri bangsa dan penerus bangsa yang harus dijaga keadaan dirinya
Anak – anak itu….berharap akan ada kasih dan kebaikan yang akan menyayangi dirinya
Anak – anak itu…membutuhkan kita semua
Mungkin ini sekelibat pemikiran gw yang gw pikir sama dengan apa yang dikatakan Plato yaitu bahwa kekayaan, anak dan istri adalah milik semua orang. Ya…walaupun untuk yang ketiga gw ga sepemikiran dengan Plato tapi gw setuju dengan 2 hal lainnya.